Assalamualaikum dari Pedalaman Portugal

From Moorish Castle – Sintra

Jam di tanganku menunjukkan pukul 16.00 ketika peserta walking tour ke Belem sampai di stasiun. Fred, tour guide yang membawaku ke Belem, menyarankan agar aku ke Sintra besok pagi. Menurutnya, sebaiknya ke Sintra seharian, karena ada banyak tempat yang bisa dikunjungi di Sintra.

“But my flight to Porto will be at 10 tomorrow,” kataku.

Aku gak punya waktu banyak, hal ini dikarenakan tour ke Belem yang seharusnya selesai pukul 14.00 ini baru selesai pukul 16.00 karena kita ketinggalan train tadi pagi.

Berangkatlah aku ke Sintra dengan informasi sedikit dari Fred bahwa disana ada banyak castle dan palace. Aku juga sudah membaca sedikit tentang Sintra di hostel semalam.

Kebetulan, dalam tour ke Belem, aku berkenalan dengan pasangan Filipina yang sekarang menetap di Swiss. Bapak dan Ibu yang bekerja sebagai NGO itu bercerita kalau mereka menginap di Sintra, dan disana ada bus murah seharga 5 euro untuk sekali putar, daripada naik hop on and hop off bus 20 euro.

Aku masih bimbang ingin menuju castle yang mana, antara Pena Palace, yang menurut cerita adalah tempat tinggal raja dan ratu portugis generasi terakhir atau castle-castle yang lain.

Namun, salah satu yang menarik perhatianku adalah Moorish Castle, yang menurut cerita merupakan fortress atau benteng pertahanan yang di bangun oleh orang muslim sekitar abad ke 8 atau 9 masehi.

Aku kesana sendirian. Ketika sudah membeli tiket, aku menyerahkan tiket tersebut kepada bapak paruh baya yang menjaga pintu masuk. Dia tersenyum ramah.

“Assalamualaikum,” katanya pelan.

“Waalaikumsalam,” jawabku.

“Are you a muslim?” tanyaku penasaran.

“Yes, I am. Please enjoy this place, has a lot of history,” katanya

“Yes, thank you,” kataku

“Are you travelling alone?” tanya bapak itu lagi

Aku mengangguk. Bapak tersebut kembali melayani pengunjung yang lain.

“It’s been late, I will walk around,” kataku lagi.

“Have a nice day,”

“Thank you,”

Sebenarnya aku masih ingin mengobrol panjang dengan bapak tersebut. Tetapi sudah sangat sore dan aku masih ingin ke Pena Palace setelah ini.

Aku mulai mendaki satu per satu menara benteng itu. Banyak pasangan bulek dan anak-anak muda yang mengunjungi castle itu. Di sebuah benteng yang agak tinggi, dimana bisa melihat pemandangan alam dan kota. Aku menangis. Never imagine I’ve been to this place. Very beautiful. Allah, terima kasih.

Welcome to Bremen

Bremen adalah sebuah kota yang terletak di barat laut negara Jerman. Menurut saya, kota ini adalah kota yang “cukup”, artinya tidak terlalu besar tetapi lengkap.

 

Pernah terlintas dalam kepala saya, mungkin kota ini adalah jawaban Allah untuk doa saya dalam setiap motivation letter yang pernah saya tulis ketika mengapply beasiswa.

“I want to leave in a city where a good transportation system is implemented,”

Yes, this city has that. Semuanya terintegrasi. Trams, buses, motorcycle, cars, bike and pedestrians are integrated. Gonna write about transport in Bremen later, yang katanya masuk menjadi salah satu finalist sebagai kota yang menerapkan sustainable transport.

Drøbak, Norway

Saat ini aku sedang merevisi draft calon buku #catatanperjalananjf yang aku sendiri antara yakin dan tidak yakin untuk menerbitkannya. Tepatnya, aku sedang menulis tentang perjalananku ke kota kecil yang tidak jauh dari Oslo.

Menurut Dhira, salah satu mahasiswa Indonesia di Oslo, Kota Oslo tidak menggambarkan kehidupan yang sesungguhnya orang-orang di Norwegia. Salah satu alternatif untuk melihat kehidupan orang-orang Norwegia adalah mengunjungi Kota Drøbak, sebuah kota kecil yang terletak disisi Oslo fjord, sekitar 1 jam perjalanan dari Oslo.

Sejak perjalanan ke Norwegia pada Juni 2016, aku belum pernah share gambar-gambar yang aku ambil disana. Berikut beberapa gambar yang ingin aku bagikan. Please enjoy 🙂

 

City Hall
City Hall

Aku berjalan-jalan keliling kota. Seluruh kota sepi dan bersih. Jalanannya agak sepi dan banyak jalan setapak. Rumah-rumah tersusun rapi dan dicat dengan warna yang bersih dan enak dipandang. Putih, biru, kuning dan merah.

Kebanyakan rumah terbuat dari kayu

 

Aku suka halaman belakang rumah-rumah disana. Nyaman dan Indah.

 

Beautiful Backyard

Selain ditengah-tengah kota, aku juga berkeliling ke perkuburan yang terletak disamping rumah ibadah warga setempat. Juga sangat indah dan bersih.

 

Aku memasuki kawasan perkuburan yang membawaku ke desa ini bagian belakang, atau tepat dipinggir sungai. Anak-anak yang bermain dengan permainan naik turun seperti di TK dulu. Anak-anak yang lebih besar berenang bebas di sungai itu. Anak-anak remaja bermain volly di lapangan volly kampung. Tidak ada yang sibuk dengan gadget disana. Kebanyakan bermain di alam. Beberapa orang dewasa membawa anjing mereka jalan-jalan.

Seperti kebanyakan anak-anak di Jerman juga, transportasi mereka biasanya sepeda.

Dibagian kota yang lain, tidak jauh dari pusat kota, terdapat Oscarsborg Fjordservice. Semacam pelabuhan untuk memarkirkan boat kecil. Aku melihat sebuah keluarga menggunakan boat itu dan membawa makanan. Aku berharap suatu hari bakal ada pengalaman seperti itu!

Puas berkeliling, aku kembali ke tengah kota. Di City Hall ada yang jualan rupanya. Ada minuman dan makanan serta beberapa oleh-oleh khas kota sepi ini.

Sebenarnya, aku ke Drøbak sama Nanta, tapi dia harus balik duluan karena pesawatnya ke London akan berangkat sore itu. Sebelum Nanta balik, kami sempat makan di Fiskerøkeriet, sebuah restoran di tengah kota.

Ohya, aku juga sempat berkunjung ke Chrismast House. Sebuah toko berkonsep natal. Semua pernak pernik natal ada disana.

Rumah Natal

 

Hari itu hari yang cerah. Sebelum pulang, aku menyempatkan makan gelato di sebuah toko ice cream. Lalu menunggu bus pulang ke Oslo.

 

Ini adalah halte bus utama di Drobak. Aku bertemu seorang nenek disana. Kami mengobrol panjang. Beliau menceritakan tentang anaknya yang sekarang tinggal di US. Katanya, ibuku pasti merindukanku, seperti ia merindukan anak-anaknya. Dia pernah tinggal bersama anaknya di US beberapa bulan, namun dia tidak betah dan memilih tinggal sendirian di Norway.

Menurut Nenek itu, Drobak itu sudah terlalu ramai. Aku terperangah. Kota sesepi ini dibilang ramai. Benar saja, dia tinggal di sebuah desa yang berada 10 menit dari Drobak. Hanya ada 5 rumah dalam satu pemukiman. Selebihnya pohon dan hamparan rumput hijau. Aku pernah mengupload video lokasi tempat tinggal nenek itu di IG pada tanggal 10 Juni 2016.

Foto-foto ini tidak diedit dan diambil dengan menggunakan HP Sony. Actually I filmed a few scenery atau panorama di kota kecil ini. Tapi aku belum belajar cara menggabungkan video. 😀 Kalau kalian tertarik untuk melihat video aku dan ingin tau lebih banyak tentang Drobak, please shot me a text in the comment ya. Terima kasih.

ALASKA: Surganya Ibu Rumah Tangga

Berawal dari keinginanku membeli seterika. Ketika balik ke kos dari Bengkel Motor di Jalan Cendrawasih, aku mampir di sebuah toko elektronik di Jalan Rappocini Raya dan melihat seterika dengan harga Rp 90.000,-an. Sangat murah. Karena dalam bayanganku, harga seterika berkisar dari 200 hingga 300 ribu. Namun, karena belum membutuhkan, aku belum membelinya.

Seterika Phillip from 170rb – 300rb

Ketika mencari nama toko elektronik di Jalan Rappocini Raya, Google Maps menyarankan aku ke Toko ALASKA. Jalan Pengayoman No. 8. Selain lebih dengan kos, aku juga bisa lebih mengetahui lokasi-lokasi baru di kota yang baru aku tinggali beberapa hari ini. Rencanaku hanya membeli setrika berubah menjadi shopping ala Ibu Rumah Tangga. Menurutku, ini adalah surganya para ibu rumah tangga!

Untuk kalian, terutama ibu rumah tangga ataupun anak kos, yang baru pindah ke Makassar, toko ini adalah tempat yang tepat untuk berbelanja peralatan rumah tangga. Harganya lebih murah daripada di Carrefour dan banyak pilihannya. Contohnya: harga sendok makan Merk Doll di Carrefour sekitar 34ribu, disini hanya 24rb. Begitu juga dengan teflon merk Maxim, lebih murah sekitar 2 ribu di Alaska. Selain itu, untuk yang mau berhemat, disini juga tersedia peralatan dapur yang murah seperti wajan dan panci dari aluminium dengan harga mulai Rp 11.000,-. Selain itu, merk peralatan elektronik yang tersedia pun bermacam-macam, mulai dari Philip, Panasonic, Miyako, Maspion, Kirin hingga merk-merk yang gak pernah aku lihat.

Aku merasa sedikit menyesal karena aku sudah membeli rice cooker, sendok & garpu, teflon, piring dan beberapa peralatan rumah tangga lain di Carefour. Seharusnya aku beli disini biar lebih hemat.

Aku juga sudah membeli sapu dan karpet di toko kelontong di Jalan Toddopulli Raya, yang harganya lebih mahal 5rb daripada di Alaska. Tapi ya sudahlah, aku ingat satu hal yang pernah aku baca,

“Kalau kita berbelanja di pedangang besar, maka kita membantu membiayai liburan mereka, namun jika kita berbelanja di pedangang kecil, maka kita membantu mereka menyekolahkan anak-anak mereka”.

Tapi intinya, Toko Alaska is highly recommended for new people in Makassar. Ini bukan endorse ataupun promosi. I am struggling dengan hal yang sama kok. Baru pindahan dan ingin berhemat. Semoga bermanfaat!

Berikut aku tampilkan beberapa foto yang aku ambil dari Toko Alaska.

Moving To Makassar: Membeli Motor di Makassar

Kebutuhan lain ketika pindah ke kota baru adalah transportasi. Seperti yang kita tau, mengandalkan angkutan umum di kota-kota di Indonesia agak sulit dilakukan. Salah satu alternatifnya adalah membeli motor.

Untuk yang baru pindah dan tidak punya banyak kenalan, mencari motor bekas dengan harga miring merupakan aktivitas yang sulit. Namun, thanks to development of technology, sekarang kita dapat mengetahui informasi penjualan motor bekas online. Salah satunya adalah di OXL.

Kita hanya perlu mengunjungi oxl.co.id, kemudian mengetik nama lokasi dan barang apa yang ingin dibeli. That’s all.

 

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli motor, seperti surat-surat dan kepemilikan, masa berlaku pajak dan kondisi motor. Perlu diperiksa terlebih dahulu mesin dan kondisi sparepart lainnya. Juga perhatikan lokasi pengambilan motor. Sebaiknya cari lokasi yang aman, seperti showroom atau keramaian. Jangan lupa negosiasi harga dan meminta garansi bahwa motor dalam kondisi baik-baik saja.

Sekian dari saya, semoga bermanfaat ya!

Moving To Makassar: Penginapan dan Kost di Kota Makassar

Ada beberapa hal utama yang harus dilakukan ketika kita pindah ke kota baru. Salah satunya adalah mencari tempat tinggal. Untuk yang tinggal dalam jangka waktu singkat dan ingin berhemat, homestay adalah pilihan yang tepat. Selain fasilitas yang nyaman, homestay biasanya juga memiliki dapur. Saya dan suami pernah tinggal di Homestay Simple K di Makassar. Review mengenai homestay tersebut dapat dibaca disini.

Selain Simple K, ada juga beberapa lainnya, seperti HH Guest House dan Discovery Homestay. Pemilihan penginapan tentu saja tergantung pada budget dan lokasi yang diinginkan.

Mencari kos itu adalah aktivitas yang gampang-gampang susah. Ada banyak pertimbangan, seperti fasilitas, lokasi dan harga. Berikut ini beberapa alternatif website yang dapat dikunjungi untuk melihat-lihat gambaran fasilitas, lokasi dan harga kost di Kota Makassar.

Mamikos.com

Mamikos.com adalah salah salah satu website yang dapat dikunjungi untuk mencari referensi kos di kota-kota besar di Indonesia. Salah satunya adalah kota Makassar. Anda dapat memfilter harga, lokasi, dan juga fasilitas.  Selain itu, jika Anda tidak mau memesan melalui mamikos, anda dapat menghubungi pemilik kos dan mengunjunginya terlebih dahulu untuk menentukan dan memastikan Anda mau kos di tempat tersebut.

 

Olx.co.id

Oxl juga dapat digunakan untuk memperoleh referensi kos di Kota Daeng ini. Anda hanya mengetik nama kota dan kost pada kolom pencarian untuk dapat mengakses info tersebut. Berhubung oxl merupakan website yang menjual beragam barang, informasi kos pada olx disampaikan secara deskriptif. Tapi tetap jelas dan mudah dipahami.

 

Facebook Group RUMAH KOST MAKASSAR 

Pada group facebook ini, para anggota grup akan mengepost untuk memberikan informasi mengenai kost-kost an di Kota Makassar juga. Admin juga sangat strict untuk menghapus iklan yang lainnya. Kamu juga bisa membuat postingan sedang mencari kos dengan kriteria tertentu disana. Selain itu, juga bisa menambah teman yang sama-sama berdomisili di Kota Makassar!

 

Sekian dulu informasi mengenai kost-kost an di Kota Makassar ya. Semoga bermanfaat. Keep sharing!

 

Moving To Makassar Series

Mesjid Amirul Mukminin near Losari

Moving To Makassar Series adalah sederet kisah yang akan menceritakan perjuangan, suka dan duka yang aku rasakan selama pindah ke Makassar. Dan tentu saja, terdapat banyak informasi yang aku harap dapat membantu orang-orang yang baru pindah ke kota baru, khususnya Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Remember, whatever you do and wherever you go, bring Allah in your heart. It will be easy for you.

Pindah ke Makassar adalah sebuah keputusan besar. I’m thinking about it for months. Bukan karena kotanya, bukan juga karena jauhnya, tetapi aku akan sendiri disini. Tanpa ada tujuan yang jelas dan kegiatan yang jelas.

Aku meyakinkan diri. Ini sebuah bakti. Agar aku merasa harus berangkat ke Makassar saat itu juga, aku mengirim sebuah paper ke sebuah simposium di Universitas Hasanuddin, sebuah kampus negeri yang berada di Makassar. Alhamdulillah diterima. Dan aku berada di Makassar!

Makassar, 16 Desember 2016

 

Real Madrid Stadium – Bernabeu Tour (Kujungan ke Stadion Sepak Bola Real Madrid)

Halaman depan Stadion Santiago Bernabéu masih terlihat sepi ketika aku tiba disana. Hanya ada beberapa orang terlihat sedang berdiri, mungkin menunggu, loket pembelian tiket dibuka. Hari itu adalah sebuah pagi di awal bulan Maret 2016, tetapi udara masih sangat dingin bagiku. Perpohonan pun masih betah bertahan dengan ranting hitam tanpa dedaunan yang melekat padanya.

Beberapa menit kemudian aku melihat beberapa orang paruh baya dan dua anak kecil mengantri di loket pembelian tiket yang belum dibuka. Aku masih sibuk mengambil beberapa foto bangunan yang bertuliskan Estadio Santiago Bernabéu itu, hingga seorang laki-laki dan perempuan berumur 20-an tersenyum padaku. Aku meminta tolong mereka mengambil sebuah gambar untukku disana. Lalu aku juga menawarkan diri mengambil gambar untuk mereka. Kami berkenalan. Mereka juga datang untuk Santiago Bernabéu Tour juga hari ini.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 09.52 waktu setempat. Pada tiket yang sudah aku pesankan online, tur di kandang tim sepakbola Real Madrid ini akan dimulai pukul 10.00 pagi. Oh ya, tujuan utama-ku ke Madrid sebenarnya memang untuk mengunjungi tempat ini. Aku penasaran saja dengan dengan lapangan sepak bola Oom Cristiano Ronaldo ini berlatih.

Ketika jam menunjukkan pukul 10.00, aku meninggalkan sepasang muda-mudi berambut coklat yang berbicara denganku tadi. Aku menuju loket pembelian tiket untuk melakukan konfirmasi tiket online yang sudah aku beli. Rupanya tiket itu bisa langsung digunakan. Aku diarahkan ke gedung yang berada di sudut kanan loket pembelian tiket, dan menggunakan tangga yang ada disana untuk masuk ke dalam stadion dan melakukan pengecekan tiket.

Aku berjalan sendirian ke bangunan itu. Bangunan itu masih sepi. Setelah bertanya pada seorang bapak paruh baya yang aku temui di dekat bangunan itu, aku menggunakan tangga untuk menuju ke lantai atas. Ketika menaiki tangga itu, aku berpas-pasan dengan seorang laki-laki yang aku terka umurnya berusia 30an.

“Hi.. I’m wondering if you know where the entrance for the tour is,” kataku melihatnya juga ngos-ngosan menuruni tangga.
Laki-laki itu tersenyum.
“Hi.. I am going to find the entrance, too,” katanya.

Lalu aku mengikuti laki-laki berwajah arab itu. Kakinya yang panjang membuat langkahnya lebih cepat dariku. Kami menemukan pintu masuk dan seorang perempuan muda berblazer hitam memeriksa tiket kami.

Kami berjalan ke area yang disebut “Panoramic View of the Stadium”. Ketika pertama kali melihat lapangan sepak bola dunia yang didesain oleh Manuel Muñoz Monasterio, Luis Alemany Soler dan Antonio Lamela itu, aku berhenti sejenak. Aku, seseorang yang sama sekali have no idea tentang sepak bola tetapi mencoba spending some money untuk berkunjung ke lapangan sepak bola kelas dunia ini.

Laki-laki tadi menungguku.

“I’m sorry, just can’t believe I’m here,” kataku.

“Oh..” dia mungkin bingung.

“I don’t watch football neither know about the club,” kataku.

Dia tertawa. Aku mulai mengobrol dengan laki-laki yang aku temui di tangga itu. Aku baru ingat kalau kami belum berkenalan ketika dia menanyakan namaku.

“Juliana,” kataku.

“Not a muslim name,” komentarnya.

Aku tersenyum. Dia bukan orang pertama yang mengatakan itu karena mereka melihat aku memakai hijab.

“My name is Yusoef,” katanya.

“So what’s bring you here?” tanyaku lagi.

“I work for that company,” katanya menunjukkan nama salah satu airline yang tertera di salah satu atap stadion itu.

“Emirates.” kataku. Dia tersenyum.

Aku mengambil beberapa foto stadion itu ketika aku pertama kali melihatnya. Yusuf melakukan hal yang sama sambil menceritakan bahwa dia harus tinggal di Dubai karena bekerja di airline terbaik itu.

Dia memintaku mengambil foto untuknya.

“Sure,” kataku.

Aku mencepret beberapa foto untuknya.

I act weird in front of stranger 😀

Lalu dia melakukan hal yang sama untukku. Aku membuka winter coat dan melakukan beberapa gaya bebas. Yusuf tertawa.

“I will tell you something,” katanya.

Dia membuka resleting jaketnya. Aku tertawa melihat ekspresinya. He’s a big fan. Dia memakai jersey real madrid berwarna merah bertuliskan Fly Emirates.

“I will take you another picture if you want,” kataku.

“No, thank you,” dia menolaknya.

Kami menaiki tangga lagi masuk ke ‘Best Club in History’ Room.

‘Best Club in History’ Room

Aku meminta Yusoef berjalan duluan. Like in a museum, aku lebih suka menikmati waktu sendirian. Tidak suka terburu-buru jika ada yang menunggu. Apalagi orang yang tidak aku kenal.

Aku memperhatikan ruang masuk yang berbentuk lorong dengan ukuran sekitar 3 meter itu. Aku melihat seorang bapak berwajah Chinese sedang melakukan selfie. Aku jadi ingat selfie stick milikku yang lupa dibawa. Bapak itu menyadari kehadiranku. Dan menawarkan diri mengambil foto untukku.

Ahh baiknya orang-orang yang aku temui. Aku memasuki lorong yang terkesan gelap itu. Aku disambut dengan dinding gelap yang sudah dimodifikasi menjadi screen kaca besar yang menampilkan video nama Real Madrid FC di dinding sebelah kiri. Awalnya aku mengira dinding itu adalah sebuah televise besar yang menampilkan video-video, namun rupanya dinding itu sudah disulap menjadi interactive glass screen wall atau semacam led screen display untuk museum science.

Lorong Temaram Itu

Aku terkesima. Aku kembali melihat disebelah kananku. Etalase kaca besar dan tinggi memamerkan koleksi piala, sepatu-sepatu tua, bola-bola tua milik hingga buku dan dokumen-dokumen milik real madrid dari tahun ke tahun. Aku memperhatikan buku tua dengan sambul lambang real madrid yang tercetak timbul terbuat dari kayu dengan jahitan dipinggirnya. Mereka menyimpan sejarah untuk mengingat kejayaan. Untuk terus berusaha berbuat yang terbaik.

The Book

Aku menelusuri bagian ruangan yang memamerkan berbagai bentuk piala yang pernah dimiliki oleh real madrid. Dan yang paling menarik perhatianku adalah piala FIFA. Megah dan elegan.

Aku juga memperhatikan lambang tim yang berubah dari tahun ke tahun. Dan yang paling menarik, mencoba beberapa screen display interactive dimana pengunjung bisa membaca sejarah pemain berdasarkan posisinya di dalam tim.

Hal yang terlama yang aku lakukan disana adalah duduk menonton video motivasi lebih dari 3 kali. Para pemain itu punya kekuatan dalam dirinya yang terkuat melebihi kekuatan fisik mereka. If you want something, you have to make it. Sangat positif dan inspiratif.

Aku duduk agak lama di depan layar itu. Sendirian. I can’t get enough of it. Aku berdiri ketika menyadari orang-orang yang menyaksikan video itu sudah berganti beberapa kali. Aku melanjutkan tur ini dengan mendengarkan suara-suara pertandingan dari corong-corong berbentuk saksofon. Dan melakukan foto-foto pada dinding yang aku tekan sendiri. Seorang bapak memintaku melakukan itu untuknya. Aku senang. Setelah membantu bapak paruh baya berwajah asia tersebut, aku melanjutkan perjalananku ke Dressing Room.

Real Madrid Dressing Room

In front of the lockers

Memasuki dressing room atau ruang loker pemain real madrid ini mengingatkan aku pada kunjunganku ke Olympiastadion di Berlin beberapa bulan yang lalu. Aku melihat loker-loker bertuliskan nama para pemain bola kelas dunia. Lockernya Pepe berada disamping Lockernya Sergio Ramos, begitu juga locker Ronaldo berdekatan dengan loker milik Kaka, sesuai dengan urutan nomor punggung mereka.
Selain itu, aku juga melongok kepada ruang istirahat, ruang tandu dan juga ruang berendam para pemain seperti di Olympia Berlin. Meskipun tidak ada tour guide, pengalaman di Berlin cukup membuatku tau apa yang harus dilihat pengunjung ketika mengunjungi sebuah stadion.

Tunnel, Dogouts and Pitch

Puas melihat-lihat ruang ganti para pemain, aku memasuki tunnel dan menuju ke dogout dan pitch. Disini menikmati lapangan sepak bola ini (pitch) dengan sempurna. Dari jarak yang sangat dekat.

Aku juga mencoba duduk di kursi para pemain (dogout). Super cool!
Aku memperhatikan orang-orang yang berkunjung. Seorang laki-laki muda menggunakan kursi roda datang kesana juga. Aku mencoba berbicara dengannya. Dengan suara tidak jelas, aku tau dia berasal dari Inggris. Katanya, ini inspirasinya untuk terus semangat menjalani hidup.

Ohya, aku juga kembali bertemu dengan Yusoef dan 3 temannya sebelum menuju ke Tunnel. Yusoef mengenalkanku pada teman-temannya.
Seorang perempuan yang aku duga berprofesi sebagai pramugari Emirates berkata,
“Let me guess, you must be from Indonesia,” katanya
Aku tertawa.
“Wow.. How do you know that?” aku penasaran.
“I know.. the way you wear your scarf and the shape of your eyes,” jelasnya.
Kami duduk disana beberapa saat. Menikmati hangatnya matahari dengan udara yang dingin ini.

Press Room
Selanjutnya adalah menuju ruang konferensi pers para pelatih dan pemain. Beberapa orang sudah duduk di kursi wartawan dan yang lainnya sedang duduk di kursi yang belakang meja yang berada di atas panggung. Biasa, mengabadikan momen menjadi para pemain bola sesaat. Aku juga jadi ikut-ikutan. So fun!

Press Room

 

No caption need 😀

Official Store
Ini adalah bagian akhir dari tur ini. Ohya, sebelumnya ada foto sesi foto dengan pemain atau dengan piala. Aku membayar foto yang aku ambil disana. Aku berkeliling toko souvenir itu. Memutuskan membeli sebuah jam tangan berlambang Real Madrid untuk kenang-kenganga. It was a very good time ever in Madrid.

 

Goodbye. Hope to be there again one day.

Ohya, kalau ada yang penasaran dengan ruang piala, ini ada vidionya.. punya orang sih hehe.

 

https://www.youtube.com/watch?v=gIM3n43sR8g

 

Terus aku juga dapat vidio orang yang buat quick tour video.. Enjoy..

perfection

you are not perfect. because you are human. do not expect yourself to be perfect. only when you are able to stop seeking for perfection in yourself, you can accept yourself for who you are.

and people around you are not perfect, too. because those people are human. do not expect them to be perfect. only when you are able to stop seeking for perfection in themselves, you can accept them for who they are.