Real Madrid Stadium – Bernabeu Tour (Kujungan ke Stadion Sepak Bola Real Madrid)

Halaman depan Stadion Santiago Bernabéu masih terlihat sepi ketika aku tiba disana. Hanya ada beberapa orang terlihat sedang berdiri, mungkin menunggu, loket pembelian tiket dibuka. Hari itu adalah sebuah pagi di awal bulan Maret 2016, tetapi udara masih sangat dingin bagiku. Perpohonan pun masih betah bertahan dengan ranting hitam tanpa dedaunan yang melekat padanya.

Beberapa menit kemudian aku melihat beberapa orang paruh baya dan dua anak kecil mengantri di loket pembelian tiket yang belum dibuka. Aku masih sibuk mengambil beberapa foto bangunan yang bertuliskan Estadio Santiago Bernabéu itu, hingga seorang laki-laki dan perempuan berumur 20-an tersenyum padaku. Aku meminta tolong mereka mengambil sebuah gambar untukku disana. Lalu aku juga menawarkan diri mengambil gambar untuk mereka. Kami berkenalan. Mereka juga datang untuk Santiago Bernabéu Tour juga hari ini.

Jam di tanganku menunjukkan pukul 09.52 waktu setempat. Pada tiket yang sudah aku pesankan online, tur di kandang tim sepakbola Real Madrid ini akan dimulai pukul 10.00 pagi. Oh ya, tujuan utama-ku ke Madrid sebenarnya memang untuk mengunjungi tempat ini. Aku penasaran saja dengan dengan lapangan sepak bola Oom Cristiano Ronaldo ini berlatih.

Ketika jam menunjukkan pukul 10.00, aku meninggalkan sepasang muda-mudi berambut coklat yang berbicara denganku tadi. Aku menuju loket pembelian tiket untuk melakukan konfirmasi tiket online yang sudah aku beli. Rupanya tiket itu bisa langsung digunakan. Aku diarahkan ke gedung yang berada di sudut kanan loket pembelian tiket, dan menggunakan tangga yang ada disana untuk masuk ke dalam stadion dan melakukan pengecekan tiket.

Aku berjalan sendirian ke bangunan itu. Bangunan itu masih sepi. Setelah bertanya pada seorang bapak paruh baya yang aku temui di dekat bangunan itu, aku menggunakan tangga untuk menuju ke lantai atas. Ketika menaiki tangga itu, aku berpas-pasan dengan seorang laki-laki yang aku terka umurnya berusia 30an.

“Hi.. I’m wondering if you know where the entrance for the tour is,” kataku melihatnya juga ngos-ngosan menuruni tangga.
Laki-laki itu tersenyum.
“Hi.. I am going to find the entrance, too,” katanya.

Lalu aku mengikuti laki-laki berwajah arab itu. Kakinya yang panjang membuat langkahnya lebih cepat dariku. Kami menemukan pintu masuk dan seorang perempuan muda berblazer hitam memeriksa tiket kami.

Kami berjalan ke area yang disebut “Panoramic View of the Stadium”. Ketika pertama kali melihat lapangan sepak bola dunia yang didesain oleh Manuel Muñoz Monasterio, Luis Alemany Soler dan Antonio Lamela itu, aku berhenti sejenak. Aku, seseorang yang sama sekali have no idea tentang sepak bola tetapi mencoba spending some money untuk berkunjung ke lapangan sepak bola kelas dunia ini.

Laki-laki tadi menungguku.

“I’m sorry, just can’t believe I’m here,” kataku.

“Oh..” dia mungkin bingung.

“I don’t watch football neither know about the club,” kataku.

Dia tertawa. Aku mulai mengobrol dengan laki-laki yang aku temui di tangga itu. Aku baru ingat kalau kami belum berkenalan ketika dia menanyakan namaku.

“Juliana,” kataku.

“Not a muslim name,” komentarnya.

Aku tersenyum. Dia bukan orang pertama yang mengatakan itu karena mereka melihat aku memakai hijab.

“My name is Yusoef,” katanya.

“So what’s bring you here?” tanyaku lagi.

“I work for that company,” katanya menunjukkan nama salah satu airline yang tertera di salah satu atap stadion itu.

“Emirates.” kataku. Dia tersenyum.

Aku mengambil beberapa foto stadion itu ketika aku pertama kali melihatnya. Yusuf melakukan hal yang sama sambil menceritakan bahwa dia harus tinggal di Dubai karena bekerja di airline terbaik itu.

Dia memintaku mengambil foto untuknya.

“Sure,” kataku.

Aku mencepret beberapa foto untuknya.

I act weird in front of stranger 😀

Lalu dia melakukan hal yang sama untukku. Aku membuka winter coat dan melakukan beberapa gaya bebas. Yusuf tertawa.

“I will tell you something,” katanya.

Dia membuka resleting jaketnya. Aku tertawa melihat ekspresinya. He’s a big fan. Dia memakai jersey real madrid berwarna merah bertuliskan Fly Emirates.

“I will take you another picture if you want,” kataku.

“No, thank you,” dia menolaknya.

Kami menaiki tangga lagi masuk ke ‘Best Club in History’ Room.

‘Best Club in History’ Room

Aku meminta Yusoef berjalan duluan. Like in a museum, aku lebih suka menikmati waktu sendirian. Tidak suka terburu-buru jika ada yang menunggu. Apalagi orang yang tidak aku kenal.

Aku memperhatikan ruang masuk yang berbentuk lorong dengan ukuran sekitar 3 meter itu. Aku melihat seorang bapak berwajah Chinese sedang melakukan selfie. Aku jadi ingat selfie stick milikku yang lupa dibawa. Bapak itu menyadari kehadiranku. Dan menawarkan diri mengambil foto untukku.

Ahh baiknya orang-orang yang aku temui. Aku memasuki lorong yang terkesan gelap itu. Aku disambut dengan dinding gelap yang sudah dimodifikasi menjadi screen kaca besar yang menampilkan video nama Real Madrid FC di dinding sebelah kiri. Awalnya aku mengira dinding itu adalah sebuah televise besar yang menampilkan video-video, namun rupanya dinding itu sudah disulap menjadi interactive glass screen wall atau semacam led screen display untuk museum science.

Lorong Temaram Itu

Aku terkesima. Aku kembali melihat disebelah kananku. Etalase kaca besar dan tinggi memamerkan koleksi piala, sepatu-sepatu tua, bola-bola tua milik hingga buku dan dokumen-dokumen milik real madrid dari tahun ke tahun. Aku memperhatikan buku tua dengan sambul lambang real madrid yang tercetak timbul terbuat dari kayu dengan jahitan dipinggirnya. Mereka menyimpan sejarah untuk mengingat kejayaan. Untuk terus berusaha berbuat yang terbaik.

The Book

Aku menelusuri bagian ruangan yang memamerkan berbagai bentuk piala yang pernah dimiliki oleh real madrid. Dan yang paling menarik perhatianku adalah piala FIFA. Megah dan elegan.

Aku juga memperhatikan lambang tim yang berubah dari tahun ke tahun. Dan yang paling menarik, mencoba beberapa screen display interactive dimana pengunjung bisa membaca sejarah pemain berdasarkan posisinya di dalam tim.

Hal yang terlama yang aku lakukan disana adalah duduk menonton video motivasi lebih dari 3 kali. Para pemain itu punya kekuatan dalam dirinya yang terkuat melebihi kekuatan fisik mereka. If you want something, you have to make it. Sangat positif dan inspiratif.

Aku duduk agak lama di depan layar itu. Sendirian. I can’t get enough of it. Aku berdiri ketika menyadari orang-orang yang menyaksikan video itu sudah berganti beberapa kali. Aku melanjutkan tur ini dengan mendengarkan suara-suara pertandingan dari corong-corong berbentuk saksofon. Dan melakukan foto-foto pada dinding yang aku tekan sendiri. Seorang bapak memintaku melakukan itu untuknya. Aku senang. Setelah membantu bapak paruh baya berwajah asia tersebut, aku melanjutkan perjalananku ke Dressing Room.

Real Madrid Dressing Room

In front of the lockers

Memasuki dressing room atau ruang loker pemain real madrid ini mengingatkan aku pada kunjunganku ke Olympiastadion di Berlin beberapa bulan yang lalu. Aku melihat loker-loker bertuliskan nama para pemain bola kelas dunia. Lockernya Pepe berada disamping Lockernya Sergio Ramos, begitu juga locker Ronaldo berdekatan dengan loker milik Kaka, sesuai dengan urutan nomor punggung mereka.
Selain itu, aku juga melongok kepada ruang istirahat, ruang tandu dan juga ruang berendam para pemain seperti di Olympia Berlin. Meskipun tidak ada tour guide, pengalaman di Berlin cukup membuatku tau apa yang harus dilihat pengunjung ketika mengunjungi sebuah stadion.

Tunnel, Dogouts and Pitch

Puas melihat-lihat ruang ganti para pemain, aku memasuki tunnel dan menuju ke dogout dan pitch. Disini menikmati lapangan sepak bola ini (pitch) dengan sempurna. Dari jarak yang sangat dekat.

Aku juga mencoba duduk di kursi para pemain (dogout). Super cool!
Aku memperhatikan orang-orang yang berkunjung. Seorang laki-laki muda menggunakan kursi roda datang kesana juga. Aku mencoba berbicara dengannya. Dengan suara tidak jelas, aku tau dia berasal dari Inggris. Katanya, ini inspirasinya untuk terus semangat menjalani hidup.

Ohya, aku juga kembali bertemu dengan Yusoef dan 3 temannya sebelum menuju ke Tunnel. Yusoef mengenalkanku pada teman-temannya.
Seorang perempuan yang aku duga berprofesi sebagai pramugari Emirates berkata,
“Let me guess, you must be from Indonesia,” katanya
Aku tertawa.
“Wow.. How do you know that?” aku penasaran.
“I know.. the way you wear your scarf and the shape of your eyes,” jelasnya.
Kami duduk disana beberapa saat. Menikmati hangatnya matahari dengan udara yang dingin ini.

Press Room
Selanjutnya adalah menuju ruang konferensi pers para pelatih dan pemain. Beberapa orang sudah duduk di kursi wartawan dan yang lainnya sedang duduk di kursi yang belakang meja yang berada di atas panggung. Biasa, mengabadikan momen menjadi para pemain bola sesaat. Aku juga jadi ikut-ikutan. So fun!

Press Room

 

No caption need 😀

Official Store
Ini adalah bagian akhir dari tur ini. Ohya, sebelumnya ada foto sesi foto dengan pemain atau dengan piala. Aku membayar foto yang aku ambil disana. Aku berkeliling toko souvenir itu. Memutuskan membeli sebuah jam tangan berlambang Real Madrid untuk kenang-kenganga. It was a very good time ever in Madrid.

 

Goodbye. Hope to be there again one day.

Ohya, kalau ada yang penasaran dengan ruang piala, ini ada vidionya.. punya orang sih hehe.

 

https://www.youtube.com/watch?v=gIM3n43sR8g

 

Terus aku juga dapat vidio orang yang buat quick tour video.. Enjoy..

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *