Madrid, Spain

Spain, 03.03.2016

Traveler’s Note

A Female Solo Traveler

Ini adalah travel pertama yang benar-benar aku lakukan sendiri. Walaupun aku sudah pernah ke Luxemburg, Hamburg, dan Osnabrück sendiri, tapi itu semua one day trip, sedangkan ini adalah 2 nights and 2 days trip, plus jauh dari Bremen, Germany, kota dimana aku melakukan exchange program.

Dalam trip kali ini, aku merasa paling santai. Gak capek, gak lelah, gak bauk, dan gak sakit waktu pulang ke kos. Walaupun cuma dua hari, rasanya I leave my research for a long time karena aku sangat senang dengan liburan kali ini. Gak ada yang diburu-buruin. Semuanya menikmati.

Dalam trip ini juga, aku harus bisa baca peta, aku punya list budget yang aku habiskan, dan punya rute yang harus aku tuju. Aku juga ngebiarin diri aku menikmati taman El Ritero selama satu jam tanpa memikirkan gimana cara aku pulang. Intinya aku ngebiarin diri aku nyasar untuk menikmati semua itu.

Dalam trip ini juga, aku gak merasa beda dengan traveler lainnya walaupun aku berjilbab. Aku tau, ada beberapa orang yang gak mau ngomong sama orang yang pakai jilbab, tapi overall hampir 95% orang yang aku temui mau ngobrol sama aku.

Beda dengan kota-kota di Jerman, di Madrid jarang banget orang berjilbab. Aku cuma ketemu 3 orang turki, dan mereka gak menyapa kayak di Jerman.

Ohya, ini juga pertama kalinya aku naik pesawat domestic di Eropa, dan pastinya low budget, Ryan Air.

Tentang solo traveler, menurut aku, there are two reasons why people prefer to travel alone. First, mereka adalah orang-orang yang egois. Second, mereka adalah orang-orang yang mandiri.

No one will have the right to judge why do you travel alone. Kenapa? Karena kamu pakai uang sendiri dan tenaga sendiri.

Apa kekurangan travel sendirian?

Kalau menurut aku sih gak ada. Paling cuma gak ada teman ngobrol. Tapi kamu bisa ngobrol sama stranger. Terus gak ada yang fotoin, kamu bisa minta difotoin sama stranger.

Travel sendiri itu lebih baik daripada travel sama teman yang kurang klik atau cocok. Kalau travel sendiri, kamu bisa minta foto sama siapapun yang kamu temui, tapi travel sama teman pasti kamu minta difotoin sama teman kamu, dan kamu gak suka hasilnya kadang-kadang kamu ga enak untuk komplain.

Learn Spanish

Pengalaman ke Madrid rasanya kurang lengkap tanpa cerita tentang pengalaman belajar Bahasa Spanyol. Dan you know what, aku belajar Bahasa Spanyol malah dari cowok Minnesota, yang duduk disamping aku ketika balik dari Madrid ke Bremen.

Ketika aku tiba di row untuk seat 08F Ryanair, aku sudah tau tempat aku dekat jendela, karena tertulis di boarding pass. Dan di tengah, atau 08E sudah duduk seorang cowok bulek.

Otak aku bekerja lebih cepat ketika melihat cowok itu. Ini pasti cowok jerman, pikirku. Malas banget. Pasti kita gak akan ngomong sebijik katapun dari Madrid ke Bremen.

Ada niat dalam hati mau tanya, “Are you German?” Mana tau bisa belajar jerman kalau memang dia tinggal di Bremen. Tapi asli, malas banget. Big no buat cowok jerman kayaknya. Akhirnya aku milih diam dan gak akan mulai ngobrol. Karena sudah diputuskan dalam hati gak akan ajak ngobrol duluan kalau itu cowok Jerman. No dan No! If you know what I mean tentang cowok Jerman.

Setelah aku duduk sekitar 5 menit dan berhenti sibuk dengan sabuk pengaman dan jaket plus permen karet, akhirnya dia mulai ajak aku ngobrol.

“What’s bring you to Germany?”

Aku yang dari tadi berusaha no kontak mata sama anak ini, mulai melirik sedikit ke muka anak ini.

Well, muka Jerman tapi logat US, yang ucapkan dengan lambat. Lalu aku merasa aneh, karena aku sibuk dengan pikiran yang gak jelas dari tadi.

Akhirnya kita mulai ngobrol, aku cerita kalau aku lagi exchange di Jerman, dan ke Madrid untuk liburan.

Dia berasal dari US, tepatnya Minnesota, juga lagi ikut program pertukaran di sebuah kota, di barat Spanyol, sekitar 4 jam perjalanan darat dari Madrid, atau lebih dekat ke Portugal.

Dan sekarang dia mau ke Hamburg, ke tempat orang tua angkatnya. Hamburg itu sekitar 1,5 jam dari Bremen dengan kereta, makanya dia terbang ke Bremen.

Tentang kenapa muka dia mirip Jerman, secara gak sengaja dia cerita karena nenek sebelah ibunya orang Jerman, ketika aku tanya kenapa dia punya host family di Jerman.

Kenapa english dia kayak agak lambat, karena dia berasal dari Minnesota. Dia bilang, orang di Minnesota, atau diucapkan dengan „Minnesooota“ atau wilayah North US dan bagian tengan itu lebih jelas ngomongnya daripada di South US.

Dia belajar Industrial Engineering dan cerita tentang dia internship di manufacturing company juga di US, lalu kita ngobrolin tentang industrial engineering, supply chain, sama software related ke manufacturing. Lalu aku merasa bersyukur disini aku ambil kelas related to manufacturing, supply chain, assembly line, sub assembly products, yang sama sekali gak ada hubungan sama transport planning, dan aku gak pernah nyangka vocabulary nya aku gunakan untuk bicara sama anak ini untuk practice English aku.

Dari cerita tentang Erasmus Party, secara gak langsung aku tau umur dia belum 21 tahun, dengan muka 30 tahun. Lalu berlanjut ke hukum minum alkohol di US harus usia 21 tahun, beda sama di Jerman, 18 tahun. Juga tentang gak boleh beli rokok di bawah 18 tahun. Aku jadi berpikir tentang betapa strict nya orang-orang negara maju terhadap hukum.

Dan orang tua mereka gak mengijinkan anak-anaknya untuk minum, meskipun anak-anak itu kadang-kadang sembunyi-sembunyi ke Basement untuk Party karena takut ditangkap polisi.

Di Indonesia, anak SD aja sudah merokok. Bahkan masih balita ada yang dikasih rokok. Alkohol gak sembarangan karena memang larangan agama mungkin.

Tiba-tiba ada pengumuman dalam pesawat, dan kita diam ngedengerin itu,

“Do you get that?” Tanya dia sambil lihat aku setelah suara itu berhenti.

“Gratcia?,” Cuma itu kata yang bisa aku tangkap.

Dia ngasih kesempatan aku dengerin kelanjutannya, dan ini juga membuat dia diam sambil akhirnya dia senyum, dan bilang,

“Deutch,” kata dia sambil angguk-angguk.

Dia sudah duluan cerita kalau dia ngerti Jerman karena host family dia pernah punya rule kalau dalam seminggu 3 hari bahasa jerman dan 3 hari bahasa inggris ketika dia tinggal dengan mereka.

“Yes, I feel home listening to this language,” aku sok-sok nyambung. Tapi sesungguhnya aku pusing dengan orang-orang ngomong bahasa yang gak aku ngerti disekitar aku selama dua hari ini.

Lalu kami mengabaikan kelanjutan pengumuman itu dalam bahasa inggris.

“Do you speak Spanish?” tanya aku akhirnya karena dia baru sebulan di Spain.

“Yes, my roommate is Spanish, I mean, we live in a shared apartment, he doesn’t speak English, so everything is in Spanish,”

“Is it difficult?”

“Yes, at first..”

Lalu dia mulai cerita tentang program yang dia ikuti. Rupanya mereka 3 bulan di Spanyol untuk belajar bahasa Spanyol, mulai dari fonetik dll. Dia juga ada besic 3 tahun belajar Spanish sebelumnya. Jadi lancarlah bagi dia.

Lalu dia nunjukin isi WA dia yang bahasa spanyol dan bacain itu untuk aku.

Jadi, kayak bahasa arab, bahasa spanyol ada gender juga. Kalau male diakhiri di huruf “o” dan kalau female diakhir dengan huruf “a” dan noun atau dua kata terakhir dalam sebuah kalimat akan berakhir dengan “o” dan “o” atau “a” dan “a” dan menentukan kalimat itu male atau female. Ribet x.

Dalam bahasa spanyol huruf “j” dibaca “h”, akhirnya aku sadar kenapa Diana, teman Meksiko aku, kalau ketawa di WA pasti ngetiknya “jajaja”, lalu double l atau “ll” dibaca “y”, jadi kata “pollo” yang bearti “ayam” dibaca “poyo”. Dan huruf “h” dianggap invisible.

Lucu jugak sih rasanya, aku punya Diana yang bahasa ibunya adalah bahasa spanyol tapi gak pernah belajar selain cuma “Comosta” “Bien” “Adios”.

Dua jam tiga puluh menit dalam pesawat, aku gagal nulis sebijik katapun tentang Solo Trip aku ke Madrid. Semuanya beda dengan yang aku pikir di awal, kita ngobrol banyak hal sampai aku akhirnya antar dia ke Platform no 9 di Bremen Hauptbahnhof. Dan we do not know each other name, karena memang menurut aku, kita tidak akan membutuhkan itu. A stranger to talk when you are alone. That is the point yang aku bilang, kalau kamu berpikir gak punya teman ngobrol ketika travel sendiri, maka kamu salah tentang itu. Kamu malah dapat teman baru.

Lalu pertanyaan selanjutnya, what did I do in Madrid?

Tuesday, 01.03.2016

19.00 Tiba di Madrid

Pesawat yang menerbangkan aku ke Madrid mendarat pukul 19.00 waktu setempat. Aku langsung menuju metro station dan membeli tiket. Metro tersebut membawaku ke Metro Station Alonso Martinez setelah berganti platform sekali. Aku mengikuti petunjuk dari hostelworld.com dimana aku membooking hostel.

Aku bertanya alamat hostel tersebut beberapa kali hingga akhirnya seseorang mengetahui jalan yang aku tuju.

21.00 Tiba di U Hostel

Aku tiba di hostel pukul 21.00, setelah check in dan meletakkan barang-barang, aku membersihkan diri dan berwudhu. Aku harus shalat magrib dan isya dijamak. Setelah itu aku keluar lagi menbeli makan malam. Pilihanku jatuh pada burrito di Tierra Burrito Bar di dekat hostel. Seorang perempuan muda yang aku yakini adalah penduduk local membantuku memilih isi untuk burritoku agar tidak termasuk daging.

Setelah makan malam, aku menghabiskan waktu di sebuah cafe di Alonso Martinez sendirian. Sambil menulis dan menikmati secangkir coklat panas. It was a really good time.

23.00 Balik ke hostel.

Hampir tengah malam aku kembali ke hostel. Jalanan masih ramai dan letak hostel juga tidak terlalu jauh. Rupanya aku sekamar dengan dua cewek asal US dan 2 cewek asal Germany. Terjadilah perbincangan panjang malam itu. As usual, I have roommates!

Wednesday, 02.03.2016

Pagi ini sebenarnya aku ingin berjalan-jalan di sekitar hostel. Tapi setelah shalat subuh aku ketiduran lagi. Aku bangun dan turun untuk sarapan dengan malas-malasan. Setelah sarapan aku menuju lokasi Free Walking Tour dengan menggunakan Metro.

11.00 Madrid Free Walking Tour Sandesman (Walk around the City, and famous building in Madrid)

Walking tour berakhir sekitar pukul 14.00. Rupanya cewek US yang sekamar denganku juga mengikuti tur yang sama denganku. Dari walking tour itu aku jadi mengenal rute dan landmark kota Madrid serta sejarahnya. Aku juga jadi tau kalau Madrid Royal Palace akan free untuk pengunjung pukul 16.00, dan Rheina Sofia Musium akan free pukul 18.00.

Untuk menghindari antrian panjang, setelah walking tour aku langsung makan siang di restoran turki dan kembali ke Royal Palace secepat yang aku bisa.

16.00 Madrid Royal Palace (free)

Aku tiba di depan Royal Palace pukul 15.00 an. Tapi antrian sudah panjang untuk free entry. Aku berfoto beberapa kali di depan Al Mudena dan ikut mengantri. Tour aku di dalam royal palace aku tulis dengan detail dalam buku aku.
Ketika pengumuman bahwa bangunan itu akan tutup, seorang cewek korea sedang melakukan selfie di depan royal palace. Sama sepertiku. Jadinya kami saling membantu dan berkenalan. Hehe.

19.00 Rheina Sofia Museum (free)

Dari Royal Palace aku menggunakan metro ke Rheina Sofia. Hari sudah hampir gelap tetapi aku tetap mengantri. Aku menikmati modern painting karya Dali, Miro, dan beberapa pelukis modern lainnya dalam diam. Hingga seseorang menghampiriku dan meminta di foto. Kesempatan itu aku gunakan untuk meminta difotokan juga. Aku sempat mampir di souvenir shop sebelum kembali ke hotel.

21.00 Balik ke hostel

Aku sampai di hotel agak malam. Sebelumnya aku mampir untuk makan di kawasan metro station Rheina Sofia.

Sesampai di hostel, aku mengobrol lagi dengan dua cewek US malam itu. Mereka menyarankan aku untuk mengunjungi El Retiro, sebuah royal garden di Madrid. Berhubung aku sudah membooking tour ke Real Madrid Stadium, aku berpikir untuk menyempatkan diri berkunjung kesana sebelum ke bandara besok sore.

Thursday, 03.03.2016

10.00 Real Madrid Stadium – Bernabeu Tour
13.00 El Retiro
15.00 Balik ke Hostel ambil barang lalu ke Bandara
19.00 Balik ke Bremen

How much I spend in Madrid (dalam euro)?

Flight (roundway) : 41
Hostel (2 malam) : 34
Bandara – Hostel : 4,7 + 4,7 (roundway)
Bernabeu Tour : 19
Tiket Metro : 1,5 per trip (5 trip)

Untuk makan dan souvenirs, it depends banget sama gaya hidup. Bisa jadi habisin sehari 10 sampai 20 euro, tergantung makan dimana dan makan apa. Bahkan kalau bulek-bulek di hostel, bisa masak and cuma belanja bahan makanan di supermarket. Sangat hemat.

 

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *