Jalan-Jalan ke Istana Kesultanan Gowa (Museum Balla Lompoa)

Bermula dari misi kami untuk do something new together at least once a week, aku mengajak suamiku ke Rumata’, yang menurut informasi adalah sebuah galeri seni yang ada di Makassar. Namun, karena Rumata’ terlihat sepi dan tidak buka, kami memutuskan untuk mengunjungi Istana Kerajaan Gowa.

Bermodal Google Map, kami tiba di tempat yang diceritakan oleh suamiku bernama Istana Kesultanan Gowa ini sekitar pukul 14.30. Saat ini, istana peninggalan salah satu kerajaan islam di nusantara ini sudah dijadikan Museum Balla Lompoa.

Alamat Museum Balla Lompoa:

Jl. K.H. Wahid Hasyim No. 39, Gowa, Sungguminasa, Makassar, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92111.

Harga untuk masuk ke museum ini hanya Rp 2.000,-. Tidak ada tiket dan hanya mencatat nama pengunjung.

Ketika kami tiba disana, dua orang perempuan muda sedang melakukan wawancara yang aku sangka adalah tokoh adat atau sejarawan. Rasanya kayak kembali ke tahun 2009, waktu aku jadi anggota Detak Unsyiah dulu.

Back to Kerajaan Gowa, seorang laki-laki yang duduk di meja resepsionis mempersilakan kami masuk. Aku dan suamiku tidak menunggu lama untuk memerintahkan kaki kami bergerak ke dalam ruangan ukuran sedang itu. Mungkin sekitar 6 x 8 meter persegi. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah permadani tradisional sederhana, dan dua buah meja panjang untuk penjamuan disisi kiri dan kanan permadani. Aku menaksir bahwa pada jaman dahulu, sultan gowa selalu duduk lesehan. selain ruangan utama, ruangan dibelakangnya juga memamerkan benda-benda peninggalan kerajaan tersebut.

 

Bangunan istana kerajaan ini terbuat dari kayu, seperti Rumoh Aceh dan rumah-rumah adat lainnya di Indonesia. Material utamanya kayu. Berbeda dengan bangunan-bangunan peninggalan kerajaan di Eropa, semuanya terbuat dari beton. Namun satu hal yang membuat aku ingat kunjunganku ke Dresden, bentuk jembatan penghubung antara bangunan yang satu dengan bangunan yang lain hampir sama dan terdapat di lantai atas.

Museum Balla Lompoa ini memamerkan hampir keseluruhan peninggalan kesultanan islam di Indonesia Timur ini. Bendera kerajaan, baju adat, lukisan dan foto-foto pendahulu, peralatan dan aksesoris perang, dapur, hingga peralatan makan dan minum tersusun rapi di lemari-lemari yang menempel ke dinding. Juga buku-buku dan foto-foto.

Menurut informasi dari silsilah kerajaan yang ada di salah satu sisi museum kerajaan ini pertama sekali terbentuk pada abad ke 13. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang bernama Tumanurunga. Menurut sebuah informasi, Tumanurung ini adalah seorang perempuan, titisan dari langit. Informasi lain menyebutkan bahwa kerajaan gowa ini merupakan kumpulan kerajaan-kerajaan kecil yang bergabung menjadi satu untuk melawan penjajahan Belanda. Baca sejarah Kerajaan Gowa disini.

Dari silsilah itu juga, aku melihat bahwa kerajaan ini berakhir pada tahun 1946, setelah Indonesia merdeka. Keterangan lebih lanjut dijelaskan oleh foto Presiden Soekarno dengan Raja Gowa, yang menceritakan bahwa kerajaan ini bergabung dengan Indonesia, dan menjadi salah satu kabupaten di Indonesia. Saat ini, terdapat Kerajaan Adat Gowa yang dipimpin oleh Andi Maddusila Andi Ijo (baru lihat bapak ini di TV lokal kemarin hihihi).

Aku membayangkan, pada jaman dulu kan banyak kerajaan di Indonesia, kalau dilestarikan cerita, budaya dan lokasinya, kemungkinan besar bisa menjadi aset untuk pariwisata Indonesia.

Menurutku, Istana ini sangat berpotensi mengundang wisatawan ke Makassar. Namun, sayangnya kebersihan halaman istana tidak terjaga. Banyak sampah yang berserakan disana. Ditambah lagi, palang nama istana pun rusak tak terurus.

Satu hal yang membuat aku sangat bahagia berkunjung kesana adalah semangat anak-anak muda disana untuk melestarikan budaya. Beberapa perempuan muda berlatih tarian tradisional di bawah salah satu bangunan. Sadar atau tidak, mereka sedang menjaga kebudayaan nenek moyangnya. Cool!

Ohya, di bagian bawah museum, terdapat tempat penyewaan baju bodo, baju adat suku makassar. Baju ini biasanya dipakai pada acara-acara resmi dan pernikahan. Harga sewanya, Rp 50.000,- per baju atau per orang.

Sekian ceritaku dari Makassar minggu ini. Semoga aku bisa cerita lagi hal yang lain, biar kalian pingin ke Makassar jugak! Semangat travelling!

Bom di Paris

Halo semua. Aku mau share salah satu catatan perjalanan yang aku tulis ketika Berlin Trip dengan International Office tahun 2015. I know it’s too late, but I think it’s okay.

Berlin, 14.11.2015

Berita mengenai bom di Paris kemarin malam membuatku terusik. Aku adalah satu-satunya perempuan berjilbab dalam trip ini. Beberapa student asal spanyol memaki-maki kaum muslimin untuk kejadian itu.

Setelah sarapan, aku kembali membaca berita itu. Dalam perjalanan menuju bus meninggalkan hostel aku ingin berbicara dengannya. Aku ingin menjelaskan bahwa orang muslim yang sesungguhnya tidak mungkin membunuh. Dan aku tidak ingin muslim direpresentasikan oleh terrorist.

“It’s so sad. They are so cruel,” aku mendengar cewek itu berbicara pada temannya. Dia menangis mengatakan itu.

“My condolences for Paris,” kataku mensejajarkan langkahku dengan langkahnya yang cepat.

Temannya, yang aku tau dari Rusia dan berambut hitam pendek menoleh ke arah ku dan tersenyum.

“Thank you,” kata perempuan berambut pirang dan keriting itu.

“I read about the news as well this morning,” kataku lagi.

“I don’t know what is in their mind about humanity,” kata perempuan itu lagi.

“How many spots in total did they attact?” tanya ku memastikan.

Perempuan itu menceritakan kronologi ceritanya dan mengatakan ada beberapa temannya yang tinggal di Paris. Makanya dia marah.

Lalu aku menceritakan tentang larangan membunuh di dalam islam. Dia menggangguk-angguk.

“I don’t think they represent the muslim community,” kataku sebelum naik ke dalam bus.

“Yes, I agree. They don’t have religion, I think,” sambung cewek berambut hitam tadi.

Aku lega sudah menyampaikan itu. Walaupun belum bisa merepresentasikan muslim yang baik, at least aku berusaha mengatakan bahwa orang-orang muslim telah di fitnah atas isu terorisme di eropa.

Isu Teror dan diintrogasi polisi

Sejak di Wina, Austria, teman sekamar kami asal Jerman sudah memperingatkan tentang terror bom tahun baru akan dilakukan di Wina. Menurut informasi dari televise, informasi tersebut diperoleh dari Kepolisian Kota Paris, dimana di Kota Paris terjadi pada awal Desember 2015. Aku panik, namun Pear biasa saja.

Ketika tiba di Salzburg, awalnya aku merasa baik-baik saja. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Ketika berjalan melewati kota tua, disana sangat banyak orang. Aku ketakutan lagi. Kami makan di McD dan aku tetap ketakutan.

Saat itu aku benar-benar memikirkan, what have they done to people in Europe and all over the globe? Mereka menamakan diri Islam, dengan karakter berjenggot dan berhijab. Orang-orang awam takut pada mereka yang berjenggot dan berhijab. Apalagi berhijab dengan sempurna.

Pear begitu sabar menghadapi aku yang awalnya berani menjadi aneh. Begitu juga ketika berada di Munich. Salah satu rencana kami adalah melihat perayaan tahun baru di kota club Bayern munchen ini. Malam itu kami kembali ke kos pukul 21.00. Bang Fiddin, orang yang memberi tumpangan menginap kepada kami, mengatakan kalau pesta kembang api akan ada di Olympia Park atau Marienplatz. Kami berencana ke salah satu tempat itu tengah malam nanti. Kami akan tidur sebentar.

Namun, tiba-tiba pukul 23.00, Bang Fidding mengabari kalau akan ada terror bom malam ini di Munich. Jelang tengah malam, stasiun utama kota munich ditutup. Berita melalui twitter dan media lainnya meminta agar semua orang berhati-hati.

Aku membangunkan Pear pukul 23.00. Aku masih berharap kami bisa melihat tahun baru di Munich. Namun, karena peringatan dari polisi dan Pear sangat mengantuk, kami melihat kembang api dari jendela kamar Ega, teman bang fiddin yang sedang tidak berada di kos.

Malam itu sangat berkabut. Kembang api yang seharusnya indah menjadi menyeramkan bagiku. Aku ketakutan.

Keesokan malamnya, kami berjalan-jalan di Kota Munich sebelum akhirnya pulang ke tempat Bang Fiddin jam 21.00. Kereta kami ke Zurich pukul 00.17, aku takut berlama-lama di Munich HBF. Namun, sekali lagi, Pear sangat sabar menghadapi aku yang menganeh.

****

Layar televisi di munchen HBF memberitakan tentang terror. Aku disana sendirian setelah Pear naik ke dalam kereta ke Bremen sore itu. Aku tidak yakin pilihan untuk stay di Munich hingga besok pagi adalah pilihan yang tepat. Udara yang sangat dingin membuat aku harus cepat memilih, naik kereta lagi atau mencari café atau penginapan. Aku memutuskan naik kereta.

Aku naik kereta dari Muenchen – Frankfurt, untuk menghabiskan malam. Aku melihat banyak hal malam itu. Mulai dari seorang perempuan yang pura-pura ketiduran ketika pemeriksa tiket datang, juga seorang backpacker laki-laki yang lusuh dan sibuk merajut di dalam kereta. Belum lagi minuman beer yang dibawanya membuat kereta tidak nyaman bagiku. Aku terlalu sibuk mencari koneksi kereta selanjutnya agar aku bisa sampai pagi lagi di Frankfurt.

Ketika tiba di Frankfurt, aku sudah tau bahwa aku harus naik kereta Frankfurt – Hannover, dan hannover – Frankfurt untuk tidur di dalam kereta dan tiba lagi disini besok pagi. Rupanya aku bertemu dengan perempuan Iran yang berprofesi sebagai dokter di Kiel, sebuah kota kecil di Jerman bagian utara. Aku tidak jadi tidur malam itu. Dia cerita banyak. Salah satunya tentang koper merah yang tertinggal di stasiun. Polisi akan menghentikan semua koneksi kereta di Frankfurt HBF jika tidak ada orang yang mengaku memiliki koper kecil tersebut dalam waktu 10 menit. Aku menghela nafas. Orang-orang di Jerman rupanya lebih parno dari aku.

****

Kakek yang aku temui dalam kereta ke Luxemburg melakukan hal serupa. Dia ingin membuang tas kecil berbahan kertas di dalam kereta. Aku memperhatikannya meremas-remas tas kertas itu.

“Kamu tau, polisi dan orang-orang akan ketakutan kalau saya tidak meremas kertas ini,” katanya padaku ketika sadar aku memperhatikannya.

“Semua orang akan berpikir kalau tas ini ada bom di dalamnya.” Lanjutnya lagi.

Aku mengatakan kalau aku ikut prihatin dengan apa yang dialami oleh orang-orang di Eropa.

“They don’t represent muslims,” kataku lagi.

Kakek itu tertawa ringan.

“Yes, I know. Hanya orang-orang bodoh yang akan berpikir bahwa ‘mereka’ itu muslim,” jawabnya menenangkanku.

****

Terakhir, dalam kereta dari Luxemburg menuju Kloblenz, aku duduk sendirian dan untuk pertama kalinya, aku diintrogasi oleh polisi. Pada saat pemeriksaan passport ketika meliwati border Luxemburg untuk masuk ke Jerman, seorang polisi laki-laki meminta pasportku. Aku juga memperlihatkan Aufenthalstitel-ku, sebagai bukti bahwa aku berdomisili di Bremen, Jerman.

Bahasa Inggris-nya yang kurang lancar membuatku berinisiatif berbicara Bahasa Jerman dengan kemampun yang sangat terbatas.

“Ich bin Studentin der Universitat Bremen,” kataku menjelaskan.

Aku memperlihatkan kartu pelajarku. Dia mengabaikanku.

“Why do you travel from Munchen to Frankrut, from Frankfurt to Hannover, From Hannover to Frankfurt, and from Frankfurt to Luxemburg in one day?”

“What did you do in Luxemburg? Who do you visit in Luxemburg?”

Ia menyebutkan semua koneksi kereta yang aku tuliskan di Eurail Pass-ku.

Pertanyaannya bertubi-tubi membuat aku sulit menjawab.

“Aku hanya melihat-lihat kota Luxemburg” Kata ku singkat. Aku mulai bingung harus menjawab apa.

“Aku tidak mengunjungi siapa-siapa,” kataku lagi.

“Why do you travel a lot in one day?” tanyanya lagi.

Setelah kurang lebih sepuluh menit diintrograsi, aku gak ngerti lagi mau menjelaskan apa. Akhirnya aku bilang,

“Ini adalah bagian dari Euro Trip aku di winter break.”

Dia masih belum percaya.

“Aku melakukan perjalanan dari kemarin sore karena aku tidak memiliki tempat menginap, sehingga aku menginap di dalam kereta. Tiketku ini membuat aku bisa hop off dan hop on dimanapun dan kapanpun selama 14 hari ini. Dan besok adalah hari terakhir aku dapat menggunakan tiket ini.” Kataku menjelaskan dengan panjang.

Aku memperlihatkan itineraries-ku dari dua minggu sebelumnya di belakang ticket. Akhirnya polisi itu minta maaf setelah aku mengulangi bahwa aku adalah student di Bremen dan memperlihatkan kartu pelajar aku lagi.

One day in Zürich, Switzerland

Ada banyak alasan mengapa seseorang mengunjungi kota tertentu. Ada yang ingin melihat suatu bangunan tertentu, ada juga yang ingin mencicipi makanan khas daerah tersebut. Namun, kali ini alasanku mengunjungi kota termahal di Swiss ini sungguh aneh. Aku ingin berfoto di Zürich HBF seperti fotonya Andy Nash, seorang transport planner. Dan alasan keduanya, aku ingin melihat Lake Zürich, yang aku sangka sama dengan Lake Zurich, sebuah desa di Lake County, Illinois, United States. Sungguh aneh.

Maka berangkatlah aku ditemani Pear dari Munich, Jerman dengan menggunakan kereta api di tengah malam itu.

Inilah view Zürichsee (Lake Zürich) di musim dingin yang berkabut dan gerimis. Kami menikmati kota yang diguyur hujan itu dari atas bell tower Grossmunster.

Kalau ini view kota dari sisi yang lain.

There was something in the past that you can’t forget, like “Bitte nicht einsteigen” means a lot to me cause it remain me to a friend who help me in a lot of things during my stay in Germany.

Idul Adha di Bremen

Bremen, Thursday, 24 September 2015 01.52

Well, besok idul adha. Hari raya pertamaku di luar negeri.

Ini di depan rumah ibu kos, masih nunggu ibu dan bapak siap. Kita semua shalat ied di taman belakang mesjid orang-orang indonesia di Bremen, lebih tepatnya di belakang wohnungnya orang indonesia.

Ini lorong kecil dan penanda untuk masuk ke tempat shalat ied. Begitu memasuki lorong itu, you will feel at home soon. Gak ada lagi bahasa aneh dan makanan aneh.

Schnee

From my office in BIBA Uni Bremen

Wednesday, 28 September 2016 23.46

Hari ini aku ke Octum Park sendirian. Ketika pulang, aku naik bus dan duduk berhadapan dengan seorang laki-laki.

Aku memperhatikan salju yang turun melalui jendela bus. Tanpa sengaja, aku melihat orang itu melihat ke arahku. Karena aku penasaran, aku bertanya padanya, bagaimana memprounounce snow dalam bahasa jerman.

“schneien”

Aku mengakhiri pembicaraan itu dengan mengangguk. Karena perjalanan terlalu lama, aku meminum air mineral yang aku bawa. Ketika aku mendekatkan botol ke mulutku, pengemudi bus mengerem. Dan air tumpah ke muka ku.

Aku diam. Begitupun lelaki di depanku.

Aku melihat ke arahnya dan sedikit tersenyum. Tawa nya pecah. Tawa yang aku yakini sudah ditahan sejak air tumpah ke muka ku.

“Where are you from?” katanya melihat ke arahku.

“Indonesia,” jawabku singkat.

“Emm..” dia mengangguk.

I know he’s german, so there won’t be further conversation jika aku tidak mulai bicara lagi.

Aku menyimpan kembali botol minumku. Cuaca dingin dan mendung membuatku malas bicara. Satu hal yang aku sadari kenapa orang-orang scandinavia itu so cool!!

Pasangan Tua

Keukenhof, Belanda

Eropa, khususnya Kota Bremen tidak hanya mengajarkan aku tentang transportasi, tetapi juga tentang cinta. Salah satu hal lain yang aku lihat disini adalah banyak pasangan kakek nenek yang sering jalan berdua. Entah itu di dalam tram, di halte, di taman, maupun di pinggir sungai yang menjadi salah satu magnet Kota Bremen. Mereka masih mesra dan hidup bersama. Things yang jarang aku lihat di kampung halamanku. Mungkin budaya kita yang berbeda, namun aku suka lihat hal ini. Minimal hal ini meyakinkan aku bahwa cinta bisa dijaga sampai rambut-rambut kita memutih.

Kata temanku, cinta itu kata kerja, jadi hingga kamu masih bisa bernapas, kamu masih bisa mencintai seseorang.

Oya, about the picture, I captured this pic in Keukenhof, Belanda. aku masih belum menemukan foto pasangan tua yang aku ambil di Burger Park Bremen. Tetapi, kakek dan nenek ini are from Germany. Neneknya sudah ga bisa jalan, kakeknya juga sudah susah jalan. Happy to see them together. Maafkan payung merah dan tas belanjaanku yang merusak kesempurnaan foto ini.

Payungnya terbuka karena waktu di Keukonhof hujan air dan hujan es beberapa kali dan matahari terik juga dalam sehari.

Tuesday, 29 September 2015 14.11

Barbeque di Wedersee Bremen

This is one of unforgettable moments that I did in Bremen.

Salah satu aktivitas di musim panas bagi orang Jerman adalah barbeque party. Dan teman Jermanku mengundang aku untuk ikutan acara tersebut sama teman-teman dan pacarnya. Karena gak mau pergi sendiri, aku ajak Nimra, temanku dari Pakistan.

Kalau di Aceh, acara bbq ini mungkin seperti acara ke pantai sebelum meugang atau bulan ramadhan, bedanya, kalau di aceh atau indonesia pada umumnya, kita akan berteduh di bawah pohon, namun kalau di Jerman orang-orang akan berjemur.

Acara bbq ini simple banget. Satu orang akan bawa perlatan bbq dan arang. Dan masing-masing yang lain harus bawa jatah makanan sendiri including alas berupa handuk untuk tempat duduk sendiri.

Karena M, temanku, tau bahwa aku gak ngerti budaya mereka, dia bawa ekstra handuk untuk aku. Dan aku bawa sate melebihi jumlah yang aku makan dan satu buah semangka.

Karena khawatir ada temannya yang vegan, aku bawa tempe juga. Jadilah tempe bakar. Hehe lumayan. Lebih parah lagi, ada temannya M yang harus gluten free. I am sorry, I can’t make sure bumbu kacang jadi-jadian aku gluten free. Tetapi, teman M, yang namanya M*r*en, akhirnya buka pantangan, dia makan satenya.

Setelah makan, kita mulai tidur-tiduran. Karena ada bayangan pohon di tempat kami duduk, akhirnya mereka sepakat pindah ke bawah matahari. Mau gak mau aku juga ikutan berjemur. Hihihi.

Why do you cover your face?

Aeroporto Lisboa

Pagi itu aku juga gak sanggup bangun. Tapi aku harus gerak karena aku akan ke porto pagi ini. Aku turun membawa koper dan kunci kamar. Sampai di bawah pintu resepsionist itu belum buka. Disitu tertempel tulisan bahwa resepsionist hostel buka jam 09.00. Sedangkan aku pagi-pagi harus ke airport. Jadi aku gak sempat checkout secara resmi. Aku tulis note di pintu dan titip kunci saja. Lalu aku menuju airport.

Alhamdulillah gak nyasar lagi perjalanan ke bandara. Dan aku tiba di Bandara sekitar pukul 10. Terus aku harus naik bus dari terminal 1 ke terminal 2. Gak ada kendala sih. Aku bingung turun dimana. Ketika orang-orang turun, aku bertanya kepada seorang bapak di depan aku, apakah ini terminal 2? Lalu dia menjawab iya, dan aku mengikuti gerakan semua orang yang turun dan mengambil koper.

Aku menuju ke lokasi untuk masuk ke ruang tunggu. Kayak biasa, antrian panjang pun terjadi. Aku tau aku kena explosive security check lagi walaupun aku gak disuru masuk ke ruang khusus. Tapi kali ini koper aku gak lama di conveyor belt yang melewati security check.

Akhirnya koper aku keluar. Dan seorang petugas bandara berkulit gelap memegang koperku.

“Could you please open your luggage?” dia bertanya sopan.

“Yes, sure,”

“Where are you from?”

“Indonesia,” jawabku singkat.

Dia memeriksa isi koperku, dan mengambil semprot sepatu yang aku bawa dari jerman.

“This is not permitted,” dia mengambil shoes deo itu.

“I am sorry, I didn’t know, because I passed the security check in Germany,” Aku menjelaskan dengan panjang.

Lelaki itu menunjukkan botol semprot deo shoes itu ke rekannya yang ada di bangku petugas pengamat isi koper. Dengan bahasa tubuh, “Cuma ini, gak ada bahaya,”

Aku membereskan barangku dan menutup koper sampai tiba-tiba si security itu bertanya dengan pelan.

“May I ask you a personal question?” dia agak berbisik

“Yes, sure,” aku tersenyum.

“You are beautiful, why do you cover your face?”

Tentang jilbab aku lagi. Rupanya walaupun pengecekan random, tetapi muslim selalu kena check!

“Because I am a muslim,” jawabku singkat.

“You can be a muslim here,” dia menunjukkan dadanya.

Aku tersenyum.

“This is my identity, no one will know I am a muslim if I do not cover my head,” jawabku dengan pelan.

Aku tidak ingin berceramah. Aku kesal deo shoes aku diambil. Kalau sepatu aku bau, gimana, kan ga mungkin aku cuci selama perjalanan. Kalau sepatu aku bau, nanti dikatain orang muslim gak jaga kebersihan. Please deh!!

Aku tersenyum dan mengucapkan “Thank you,” sebelum meninggalkan meja pengecekan itu.